Saat ini sulit untuk menemukan seseorang yang dapat diandalkan karena kejujurannya. Utamanya, orang-orang yang tinggal di kota besar, sejak kecil sudah diajarkan untuk bersikap waspada terhadap setiap orang di sekelilingnya. Memand ada begitu banyak kasus penipuan dan kejahatan yang terjadi tanpa disangka-sangka. Orang yang dikira baik ternyata adalah orang yang jahat. Orang yang dengan simpatik menawarkan segelas air minum ternyata sedang bermaksud jahat. Orang yang menawarkan diri untuk membawakan tas dan belanjaan ternyata sedang berusaha merampok. Kita seakan-akan kehilangan alasan untuk mempercayai orang lain dalam hal apapun.
Memang sulit untuk mengetahui apakah seseorang berkata benar atau tidak. Bahkan dalam proses Pengadilan sekalipun, sulit membedakan apakah kesaksisan seseorang itu benar atau tidak. Hanya dengan alat bukti yang kuat, barulah kita mempercayai kesaksian yang diberikan seseorang.
Perilaku atau kebiasaan untuk berkata benar berakar pada nilai KEJUJURAN. KEJUJURAN ini adalah karakter yang melekat dalam hati seseorang. Karena itu, sulit untuk mengetahui sepenuhnya apakah seseorang jujur atau tidak.
Kejujuran yang sejati tidak dapat dipisahkan dari ketulusan. Orang yang dengan sengaja berkata jujur demi mencelakakan orang lain tidak dapat disebut sebagai orang yang jujur. Orang yang jujur adalah orang yang mau berterus terang demi menegakkan kebaikan ke depan. Pilihan untuk berkata benar ada pada diri kita sendiri. Perilaku atau kebiasaan ini tidak lahir begitu saja. Perilaku atau kebiasaan ini tidak lahir begitu saja. Dibutuhkan latihan yang terus menerus untuk memiliki integritas dan keberanian, sehingga kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun, kita dapat terus memilih untuk berkata benar benar dan siap dengan segala konsekuensi yang mengikutinya.
{ Sumber : Modul Guru PKBN2K BPK PENABUR. Jakarta. (2013) }

No comments:
Post a Comment