The first large-scale Asian–African or Afro–Asian Conference—also known as the Bandung Conference (Indonesian: Konferensi Asia-Afrika) —was a meeting of Asian and African states, most of which were newly independent, which took place on April 18–24, 1955 in Bandung, Indonesia.
The twenty-five countries that participated at the Bandung Conference
represented nearly one-quarter of the Earth's land surface and a total
population of 1.5 billion people.[1] The conference was organised by Indonesia, Burma, Pakistan, Ceylon (Sri Lanka), and India and was coordinated by Ruslan Abdulgani, secretary general of the Indonesian Ministry of Foreign Affairs.
The conference's stated aims were to promote Afro-Asian economic and cultural cooperation and to oppose colonialism or neocolonialism by any nation. The conference was an important step toward the Non-Aligned Movement
Anniversaries
- The 2nd Asian-African Conference Summit took place in Jakarta and Bandung. The 2005 conference results in the NAWASILA (nine principles) and the establishment of the NAASP (New Asia-African Strategic Partnership). Of the 106 nations invited to the historic summit, 89 are represented by their heads of state or government or ministers.[2]
- The 3rd, or 60th Anniversary Conference Summit has being held in Bandung and Jakarta from 21-25 April 2015, with a theme Strengthening South-South Cooperation to Promote World Peace and Prosperity. Delegates from 109 Asian and African countries, 16 observer countries and 25 international organizations are participating.[2]
Konferensi Tingkat Tinggi Asia–Afrika (disingkat KTT Asia Afrika atau KAA; kadang juga disebut Konferensi Bandung) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan ini berlangsung antara 18 April-24 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.
Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk
dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan
apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat
untuk mengkonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang
memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat Tiongkok
dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi
hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat;
penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Perancis di
Afrika Utara dan kekuasaan kolonial perancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.
Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung,
yang berisi tentang "pernyataan mengenai dukungan bagi kerusuhan dan
kerjasama dunia". Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.
Konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.
Sebuah kebanggaan pernah memasuki Gedung Merdeka dan berkeliling mengitari dan mengamati isi mueseum di Gedung yang 60 tahun silam digunakan sebagai tempat Konferensi Asia Afrika, momentum yang bersejarah bagi dunia. Suatu kebanggaan pula bagi saya sebagai warga negara Indonesia, karena
menjadi sebuah pusat sejarah bagi dunia. Semoga prediksi yang menyebutkan bahwa Indonesia akanmenjadi sebuah Mercu Suar dunia pun benar-benar akan terjadi. Saya bangga menjadi warga negara Indonesia, di samping begitu banyaknya konflik dan kekurangan di negeri ini, namun banyak pula yang menjadi kebanggaan dari tanah airku ini.
No comments:
Post a Comment